Oleh: Husin Saidy Sasa, S.H., M.H.
Mari terus berbuat baik, sekalipun kebaikan kita tidak selalu mendapatkan balasan. Sebab, matahari tidak pernah meminta ucapan terima kasih kepada bumi, tetapi ia tetap bersinar, menerangi siapa saja tanpa memilih siapa yang pantas menerima cahayanya.
Jadilah seperti akar pohon. Ia tumbuh dalam kesunyian, tersembunyi di bawah tanah, tidak pernah dipuji oleh manusia. Namun, dari kesunyian itulah pohon berdiri kokoh, memberi keteduhan, bahkan buah yang dapat dinikmati banyak orang.
Begitulah seharusnya manusia. Tidak semua kebaikan harus dipertontonkan, tidak semua pengorbanan harus diumumkan, dan tidak semua ketulusan harus mendapatkan pengakuan.
Jangan berhenti menjadi baik hanya karena pernah dikecewakan. Jangan lelah menolong hanya karena pernah ditinggalkan. Sebab, jika kita berhenti berbuat baik hanya karena dunia tidak selalu baik kepada kita, bukankah kita sedang membiarkan keburukan menentukan siapa diri kita?
Ingatlah, air yang menetes perlahan mampu melubangi batu yang keras. Bukan karena ia kuat dalam satu tetesan, melainkan karena ia tidak pernah lelah untuk terus mengalir.
Demikian pula kebaikan. Mungkin hari ini tidak terlihat hasilnya, mungkin hari ini tidak dihargai, tetapi percayalah, tidak ada ketulusan yang benar-benar sia-sia di hadapan Allah.
Teruslah menjadi manusia yang bermanfaat. Sebab, hidup bukan sekadar tentang seberapa tinggi kita berdiri, seberapa banyak yang kita miliki, atau seberapa besar nama kita dikenal. Melainkan tentang berapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik karena kehadiran kita.
Pada akhirnya, kita mungkin tidak mampu mengubah seluruh dunia, tetapi setidaknya jangan sampai dunia mengubah hati kita menjadi manusia yang kehilangan kebaikan.
Jadilah seperti hujan, yang tetap membasahi bumi, bahkan ketika tidak semua tanah mampu menghargai kehadirannya.
Salam kebaikan.
