USK Kembangkan Inovasi Trembesi dan Pupuk Kompos Bernilai Ekonomi di Gampong Tibang

 


Banda Aceh - Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Syiah Kuala (USK) memperkenalkan inovasi pemanfaatan biji trembesi (Samanea saman) sebagai alternatif bahan pangan dan sumber produk bernilai ekonomi di Gampong Tibang, Kecamatan Syiah Kuala. (Banda Aceh, 17 Oktober 2026).

Kegiatan ini menjadi langkah awal pengenalan teknologi pengolahan biji trembesi yang selama ini belum banyak dikembangkan sebagai bahan pangan di Aceh. Melalui pelatihan dan praktik langsung, tim pengabdian memperkenalkan enam produk berbasis trembesi, yaitu tepung, tempe, cookies, brownies, cake pisang, serta pupuk kompos dari biomassa daun trembesi.

 

Kegiatan dibuka oleh Ketua Tim Penggerak PKK Gampong Tibang, Ardiana, serta diikuti oleh anggota PKK, kader posyandu, remaja putri, dan masyarakat setempat.

 

Inovasi yang diperkenalkan berfokus pada pengolahan biji trembesi menjadi tepung melalui tahapan penanganan bahan baku, perebusan, perendaman, pengupasan, pengeringan, penyangraian, hingga proses penepungan menggunakan mesin penepung (grinder).

 

Tepung yang dihasilkan dimanfaatkan sebagai sebagai bentuk diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal. Tepung menjadi bahan dasar pembuatan cookies, brownies, dan cake pisang, serta pengembangan tempe trembesi melalui proses fermentasi.

 

Selain itu, daun trembesi dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan pupuk kompos. Integrasi pengolahan pangan dan pupuk organik ini menerapkan prinsip circular economy dan zero-waste agroindustry yang diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya lokal, mengoptimalkan pemanfaatan biomassa, mengurangi limbah organik serta membuka peluatan kegiatan ekonomi produktif masyarakat.

 

Program Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Gampong Binaan (PKM-BGB) ini diketuai oleh Dewi Sri Jayanti, S.TP., M.Sc., bersama anggota tim Ir. Cut Nilda, S.TP., M.Sc., Dr. T. Ferijal, S.TP., M.Sc., Nova Suryani, S.P., M.P., Dr. Raida Agustina, S.TP., M.Sc., serta menghadirkan Dr. Siti Mechram, S.TP., M.Sc sebagai narasumber.

 

Program ini turut melibatkan enam mahasiswa KKN Tematik, yaitu Azizi Muda, Muammar Althaf, Aina Tunzira, dan Siti Yatima dari Fakultas Pertanian, serta Nayla Zahira dan Putri Najla dari Fakultas Teknik. Keterlibatan mahasiswa mendukung persiapan hingga transfer pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat desa.

 

Ketua tim pengabdian, Dewi Sri Jayanti, menjelaskan bahwa kegiatan ini diarahkan untuk memperkenalkan potensi biji trembesi sebagai alternatif bahan pangan sekaligus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengembangkan produk bernilai tambah. Penggunaan mesin grinder, diperkenalkan untuk mempermudah proses penghalusan biji menjadi tepung yang dapat dimanfaatkan dalam diversifikasi produk pangan.

 

“Melalui pelatihan ini, masyarakat diharapkan mampu memahami proses pengolahan tepung dan tempe trembesi serta peluang pengembangannya sebagai usaha produktif skala rumah tangga,” ucapnya.

 

Program ini juga mendorong penguatan kemampuan produksi, pengemasan, pelabelan, dan pemasaran, dengan tetap memperhatikan standarisasi proses, mutu, serta keamanan pangan agar inovasi yang diperkenalkan dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

 

Melalui kolaborasi antara tim pengabdian USK, Pemerintah Gampong Tibang, anggota PKK, kader posyandu, remaja putri, dan masyarakat, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi fondasi pengembangan produk unggulan lokal berbasis trembesi.

 

 Program PKM-BGB Tahun 2026 yang didanai oleh USK ini mengintegrasikan inovasi teknologi pangan, pemanfaatan biomassa, dan pemberdayaan masyarakat untuk mendukung diversifikasi pangan dan pengembangan ekonomi sirkular.

 

 Ke depan, pemanfaatan trembesi menjadi berbagai produk pangan dan pupuk kompos diharapkan mampu membuka peluang usaha produktif, memperkuat ketahanan pangan, serta mendorong kemandirian ekonomi masyarakat. Inovasi ini juga diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan berbasis potensi lokal yang dapat direplikasi oleh gampong lainnya dalam mendukung ketahanan pangan, diversifikasi produk, dan kemandirian ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.[]

Lebih baru Lebih lama