Kuflet Gelar diskusi wacana seni : dari Kant sampai deleuze


Padang Panjang,- Komunitas Seni Kuflet kembali menggelar diskusi rutin sabtu, (19/09/2026). Dengan mengangkat tema "Wacana Seni : dari Kant sampai Deleuze". Diskusi ini menghadirkan narasumber tamu Dosen ISI Padang Panjang Dr. Sn. Ediantes S. Sn., M. Sn. (Dosen Televisi dan Film). Turut hadir pula Pendiri Kuflet Dr. Sulaiman Juned, M. Sn. yang dimoderatori Noveliza dan diikuti oleh anggota kuflet Ujar Ketua Harian Kuflet, Nofa Dwi Saputra.

Pemateri Ediantes mengatakan, Keresahannya terhadap perkembangan seni hari ini. Hal ini dikarenakan seni yang semestinya hadir sebagai "art" justru kerap muncul dalam bentuk "craft". Seni memiliki esensi tersendiri yang membedakannya dari sekedar kerajinan atau produk pesanan. Paparnya.

Ediantes menambahkan, Mengacu pada pemikiran Immanuel Kant, filsuf Jerman kelahiran 1742 yang dikenal sebagai peletak dasar estetika filsafat. Seni dan kritik seni lahir dari pandangan yang dihasilkan manusia melalui kehendak bebas, diciptakan dari kehendak sang pencipta. Keindahan, menurutnya, adalah kesenangan tanpa kepentingan. Seni hadir dari rasa, bukan semata struktur teknis. Sementara konsep keindahan adalah hasil pemikiran manusia dalam mengwujudkan pemikiran serta adanya sublim, kehendak bebas dari Inti sari sebuah fenomena, kemudian diangkat menjadi seni sehingga lahirlah keterikatan tersendiri sebagai karya seni. Tuturnya.

Ediantes membedakan antara "craft" karya yang dibuat karena pesanan atau kepentingan tertentu dengan "art", sesuatu yang dibuat namun tidak dibentuk secara sengaja untuk kepentingan itu. Ungkapnya.

Edianter menjawab pertanyaan Fadhil, Representasi dan reinterpretasi dalam mewujudkan ide menjadi karya seni, serta bagaimana batas nilai keindahan yang tersublim mencair dalam sebuah penelitian budaya. Keindahan memiliki wujud sekaligus rasa yang muncul dari pola-pola yang ditangkap dan menjadi fenomena. Keindahan juga bersifat disengaja efeknya menjadi representasi, dan kesenangan adalah efek dari kesengajaan itu. Jelasnya.

Selanjutnya Ediantes memaparkan pandangan seni menurut Gilles Deleuze, di mana seni yang tadinya bersifat klasik pada era kontemporer berbicara sebagai "tubuh tanpa organ". Seni, menurutnya, tidak sekedar dipresentasikan, melainkan berbicara dengan sendirinya. Konsep humanis hadir untuk membantu kemanusiaan dan lingkungan hidup, sebab segala sesuatu yang dibuat manusia bergantung pada kebutuhan manusia itu sendiri. Sementara pascahumanisme mengajak melampaui batas diri sendiri, menjadi solusi terhadap pemahaman manusia yang lebih luas. Ucapnya.

Ediantes menjaesb pertanyaan Naufal soal alur sebagai alinasi dari naskah, menekankan bahwa proses berkarya semestinya berangkat dari pemikiran terlebih dahulu, baru kemudian disesuaikan dengan konsep dan teori akademis bukan sebaliknya. Dalam berkarya seni, seniman tidak lebih dulu memikirkan bentuk, melainkan ide dan ketertarikan terhadap sesuatu, sebab kesenangan dan ketertarikan itulah yang menghadirkan sesuatu tanpa bentuk yang kaku. Ujarnya.

Ediantes menjelaskan, Goresan dalam berkarya lahir dari rasa terlebih dahulu menjadi suatu pemikiran yang kemudian dimanifestasikan sehingga membentuk karya seni, perpaduan antara pikiran dan hati. Jadi, perbedaan artistik dan estetik: artistik berkaitan dengan bagaimana sebuah karya dibuat, sedangkan estetik berkaitan dengan apa yang dibuat. Tuturnya.

Pendiri Komunitas Seni Kuflet, Dr. Sulaiman Juned, M.Sn., mengatakan, Diskusi rutin tentang seni di komunitas selalu dilaksanakan setiap Sabtu petang. Biasanya pada setiap hari Sabtu setiap mingunya seluruh anggota saling bergantian menjadi narasumber. Semua anggota Kuflet harus mampu memaparkan pikirannya. Kemudian setiap tiga bulan sekali kita undang para Pakar untuk menjadi narasumber, ya kali ini berkesempatan hadir Dr.Sn. Ediantes, S.Sn., M.Sn., yang berbagi ilmu dengan kita. Beginilah rutinitas di Kuflet. Ujar Sastrawan, teaterawan yabg juga Dosen Seni Teater ISI Padangpanjang ini. []

Lebih baru Lebih lama