MEULABOH – Pemerintah Gampong Pasar Aceh, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat, terus berinovasi menggenjot ekonomi desa yang bersumber dari potensi kelautan. Melalui kolaborasi Pos Pelayanan Teknologi Tepat Guna (Posyantek) Merdeka dan Badan Usaha Milik Gampong (BUMG) Pasar Baru, pihaknya menyelenggarakan pelatihan pengolahan hasil laut dengan menggandeng akademisi Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.
Pelatihan yang berlangsung di Kantor Keuchik Gampong Pasar Aceh pada Sabtu (20/9/2026) tersebut, memfokuskan pada praktik dan pendampingan produksi abon ikan bercita rasa khas Aceh. Kegiatan ini diikuti oleh puluhan peserta yang terdiri dari ibu-ibu pelaku usaha, pemuda gampong, serta pengurus BUMG yang selama ini mengandalkan hidup dari sektor perikanan tangkap dan budidaya.
Ketua Posyantek Merdeka Gampong Pasar Aceh, Agustian Saputra, S.TP, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan realisasi dari kerja sama yang dijalin antara Posyantek Merdeka dengan Pusat Riset Mekanisasi dan Perbengkelan Pertanian (Pusmeptan) di bawah LPPM USK.
Ia menegaskan, sinergi tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan wujud komitmen jangka panjang dalam menghadirkan Teknologi Tepat Guna (TTG) yang aplikatif dan mampu mendongkrak nilai tambah produk warga.
“Posyantek memang lembaga di desa yang fungsinya mengembangkan TTG. Kami sangat memahami bahwa kekuatan Gampong Pasar Aceh ada di perikanan. Hasil lautnya berlimpah, namun selama ini hanya dijual dalam bentuk segar dengan harga rendah. Lewat BUMG, kami berupaya menyulapnya menjadi olahan bernilai jual lebih tinggi dan berdaya simpan lama,” kata Agustian.
Menurutnya, nelayan di Pasar Aceh selama ini kerap terbentur masalah naik turunnya harga ikan, terutama ketika panen raya. Saat tangkapan melimpah, harga jatuh dan sebagian ikan tidak laku hingga terbuang. Kondisi itu yang melatarbelakangi Posyantek mencari terobosan pengolahan pascapanen.
Abon ikan dinilai menjadi pilihan tepat karena sejumlah kelebihan. Selain pembuatannya cukup mudah dengan dukungan peralatan TTG seperti mesin spinner peniris minyak, mesin pencabik abon, dan alat sealer, abon juga mampu bertahan lama 3 hingga 6 bulan dan mudah didistribusikan. Ditambah racikan bumbu khas Aceh seperti kari, asam sunti, serta rempah lokal, produk ini diharapkan memiliki ciri khas yang membedakan dengan abon di pasaran.
“Orang selama ini mengenal abon dari sapi atau ayam. Padahal ikan kandungan proteinnya tinggi dan bahan bakunya tersedia di depan kita. Dengan teknologi yang kami bawa, ibu-ibu tidak perlu lagi memeras minyak secara manual yang memakan waktu dan kurang higienis. Semua sudah menggunakan mesin,” ujarnya.
Di sisi lain, Ketua BUMG Pasar Baru Gampong Pasar Aceh, Cut Ledi Elvira, menyambut optimistis pengembangan produk unggulan desa itu. Di bawah kepemimpinan Keuchik Pasar Aceh, Rizwan Rahman, S.Pi, pihaknya memang tengah mendorong kemandirian ekonomi gampong lewat penguatan unit usaha produktif.
Cut Ledi menyebutkan, BUMG Pasar Baru nantinya akan berperan sebagai penampung dan pemasar abon ikan hasil produksi kelompok warga. Mulai dari pengadaan bahan baku, penyeragaman cita rasa dan kemasan, sampai strategi pemasaran akan ditangani secara profesional oleh BUMG.
“Kami berharap pelatihan ini tidak berhenti di sini saja. Kami ingin hasil produksi yang sudah memakai dukungan alat TTG ini bisa menembus pasar yang lebih luas. Sasaran jangka pendek kami adalah masuk ke pasar lokal, khususnya untuk menyuplai kebutuhan Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Aceh Barat,” ungkap Cut Ledi.
Ia menilai program MBG merupakan peluang besar bagi produk lokal gampong. Abon ikan sebagai sumber protein hewani yang praktis, bernutrisi, dan digemari anak-anak sangat cocok menjadi salah satu menu MBG. Jika terealisasi, perputaran uang akan tetap berada di gampong.
“Bayangkan, ikannya dari nelayan kita, diolah ibu-ibu kita, menggunakan alat dari Posyantek kita, dijual BUMG kita, untuk anak-anak sekolah kita. Inilah konsep ekonomi sirkular yang sedang kami bangun,” tegasnya.
Dari kalangan akademisi, tim dosen Teknik Pertanian USK yang bertindak sebagai pemateri memaparkan secara detail proses pembuatan abon ikan yang higienis sesuai standar keamanan pangan. Tim yang diketuai peneliti Pusmeptan tersebut juga mendemonstrasikan langsung prototipe mesin TTG kepada peserta.
Materi yang diajarkan meliputi cara memilih jenis ikan yang sesuai seperti tongkol, tuna, dan cakalang yang banyak didaratkan di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Johan Pahlawan, teknik pengukusan dan pencabikan agar tekstur tidak hancur, racikan bumbu Aceh, hingga teknik penggorengan dengan suhu terkontrol serta penirisan minyak dengan spinner agar abon tidak cepat tengik dan lebih tahan lama.
Antusiasme peserta cukup tinggi. Salah seorang peserta, Icut (45), mengaku baru mengetahui bahwa ikan dapat diolah menjadi abon tanpa bau amis.
“Biasanya ikan kalau tidak habis dijual segar, kami bikin ikan asin. Kalau dibikin abon seperti ini, anak-anak pasti suka. Tadi kami sudah coba, rasanya enak sekali, mirip abon sapi, apalagi ada rasa kari Acehnya,” tutur Icut sembari memperlihatkan kemasan abon hasil praktiknya.
Keuchik Gampong Pasar Aceh, Rizwan Rahman, S.Pi, dalam sambutannya mengapresiasi kolaborasi tersebut. Menurutnya, sinergi antara gampong, Posyantek, BUMG, dan kampus merupakan pola ideal dalam pembangunan desa. Gampong memiliki potensi, sementara kampus memiliki ilmu dan teknologi.
“Ini bukti nyata kehadiran perguruan tinggi di gampong. Kami tidak mau Pasar Aceh hanya dikenal sebagai gampong pesisir penjual ikan mentah. Kami ingin bertransformasi menjadi gampong produsen. Dengan Posyantek dan BUMG yang aktif, saya yakin kemandirian ekonomi bisa kita wujudkan,” ujar Keuchik Rizwan.
Ia berharap ke depan akan muncul inovasi TTG lainnya yang bisa diterapkan di Pasar Aceh, bukan hanya di sektor perikanan, tetapi juga pengolahan limbah perikanan menjadi pupuk organik, pakan ternak, serta produk turunan lain.
Tim akademisi USK yang hadir dalam pelatihan ini terdiri dari Dr. Mustaqimah, S.TP., M.Sc, Dr. Muhammad Yasar, S.TP., M.Sc, Dr. Raida Agustina, S.TP., M.Sc, dan Dr. Diswandi Nurba, S.TP., M.Si. Turut hadir pula akademisi dari Universitas Teuku Umar Meulaboh yaitu Fachruddin, S.TP., M.Si, Dr. Sri Handayani, dan Dr. Cut Nyak Rian.
Pelatihan sehari penuh itu ditutup dengan penyerahan simbolis alat Teknologi Tepat Guna berupa mesin pembuat abon dari Pusmeptan USK kepada Posyantek Merdeka yang akan dikelola bersama BUMG Pasar Baru. Peralatan tersebut rencananya akan ditempatkan di Rumah Produksi BUMG sebagai sentra pengolahan abon ikan Gampong Pasar Aceh.[]
