Humas SMKN 1 Gandapura Gelar Sosialisasi Program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri



Bireuen - Kebutuhan tenaga kerja dari luar negeri setiap tahun mengalami peningkatan yang tajam. Hal ini membuat negara luar mencari ketersediaan tenaga kerja yang kompeten untuk mengisi industri masing-masing. 

Dalam hal ini pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) pun terus memperkuat peran pendidikan vokasi utamanya SMK dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten dan berdaya saing global. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah Program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri (3+1) SMK. 

Terkait kebijakan di atas, Sabtu (11/4) pagi, SMKN 1 Gandapura mensosialisasikan program ini kepada siswa kelas XII dan orang tua/wali siswa. Kegiatan berlangsung di kantor dewan guru SMKN 1 Gandapura dengan menghadirkan narasumber dari Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Aceh dan Intruktur Bahasa Jepang yang berbasis di Bireuen. 

Kepala SMKN 1 Gandapura, Feri Irawan, SSi MPd, yang diwakili WKS Bidang Humas Julaidar, SPd MPd, dalam arahannya menyampaikan bahwa program ini dirancang dengan komposisi tiga tahun pembelajaran sesuai dengan kurikulum nasional dan ditambah satu tahun untuk mematangkan kompetensi keahlian para murid SMK, bahasa asing, serta budaya kerja dari negara tujuan.

Lebih lanjut, Julaidar, selama ini masalah yang terjadi bukan bertumpu pada masalah teknik karena banyak SDM dalam negeri lulusan SMK yang mampu tetapi terhalang dengan adaptasi budaya dan biaya persiapan yang tidak sedikit. Di sinilah negara hadir melalui Keputusan Menteri Nomor 64 Tahun 2026 tentang Program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri di SMK.

"Program ini menambah masa belajar satu tahun untuk membekali murid secara utuh, mulai dari bahasa asing dan budaya kerja yang disiapkan untuk mencapai standar negara tujuan,” ucap Julaidar.

Selain untuk membekali kemampuan bahasa asing dan budaya kerja negara tujuan, melalui program ini pemerintah berusaha menekan biaya yang harus dikeluarkan para murid untuk berangkat kerja ke luar negeri. Terakhir, program ini juga menargetkan untuk tidak hanya mencetak tenaga kerja, tetapi juga menyiapkan tenaga profesional yang mampu membawa nama baik Indonesia. 

Sementara narasumber, Kepala BP3MI Aceh, Siti Rolijah, SH, MH memaparkan, BP3MI menghimbau kepada seluruh sekolah untuk mendorong dan memotivasi alumni-alumni yang bisa dan memenuhi syarat untuk bekerja di luar negeri. 

"Kendala yang sering dialami sekolah yang dirasakan juga oleh BP3MI adalah ketika alumni tidak ada keinginan dan keberanian untuk bekerja di luar negeri atau alumni memiliki motivasi untuk bekerja di luar negeri namun tidak diizinkan oleh orang tua ada pula yang baik orang tua maupun alumni memiliki motivasi namun terkendala biaya,"jelas Siti Rolijah.

Lebih lanjut, Siti Rolijah, hal ini bukan tanpa alasan, banyaknya pemberitaan yang menempuh jalur ilegal dalam pemberangkatanya mengalami tindak kejahatan, menimbulkan kekhawatiran pada calon pekerja migran indonesia. disinilah peran kita untuk mengedukasi para alumni untuk memahami alur pemberangkatan PMI yang aman dan resmi, jelasnya.

Menurutnya, ada 5 skema pemberangkatan resmi yang dikelola oleh BP3MI, yaitu: G to G (Goverment to Goverment), G to P (Goverment to Private), P to P (Private to Private), Skema mandiri & UKPS (Untuk Kepentingan Perusahaan Sendiri).

Salah satu orang tua siswa yang hadir sangat senang mendengar pemaparan hari ini.  

"Kami merasa informasi diatas sangat bermanfaat dan menjadi wawasan baru untuk kami bagikan pada para alumni di tempat saya supaya optimisme para alumni sebagai para pencari kerja bisa bertambah dengan adanya informasi bekerja di luar negeri, paparnya.

Sekadar informasi bahwa banyak negara maju mengalami kekurangan pekerja dalam skala besar utamanya pada sektor caregiver, manufaktur, dan perhotelan. Ini membuka peluang karena Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) menargetkan tahun 2026 untuk menempatkan 500 ribu tenaga kerja di luar negeri yang fokusnya ke lulusan pendidikan menengah.

Sementara narasumber kedua, Delvi Zaputri, S.Sos Instruktur Bahasa Jepang, menjelaskan. bahwa persaingan mencari pekerjaan di lapangan kini semakin ketat di mana lulusan S-1 bersaing dengan lulusan SMK yang seharusnya itu bisa dikerjakan oleh lulusan SMK. Tentu ini berpengaruh sehingga kita harus cari cara supaya lulusan SMK menjadi sebuah energi baru.

Nantinya, murid yang dinyatakan lulus program ini berhak memperoleh sertifikat kompetensi, dan rekomendasi untuk kerja di luar negeri di negara tujuan. 

Tambah Delvi, untuk bisa bekerja di Jepang, ada persiapan yang perlu dilakukan agar perjalanan kalian aman dan sukses. Kemampuan bahasa Jepang dan mengenali budayanya adalah kunci utama sukses bekerja di Jepang.

Dukungan berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk melancarkan pelaksanaan program ini. Program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri (3+1) SMK bukan sekadar model pembelajaran, melainkan sebuah strategi nyata dalam menyiapkan generasi muda Indonesia untuk menembus batas dan meraih peluang di dunia kerja global.[]

Lebih baru Lebih lama