Kuatkan Generasi Muda, Fushulul Qur’an Aceh Dan Lintas Komunitas Gelar Diskusi Peran Orang Tua


Banda Aceh - Fushulul Quran Aceh (FQA) berkolaborasi dengan Abqary Cendekia, TPA Nurul Ikhlas, LDK Ar-Risalah UINAR, KAMMI Banda Aceh, HIMAPAUDI USK dan TPA Al-Mukhayyarah Darussalam Banda Aceh dalam kegiatan DISKUSI KEILMUAN AHAD, Merajut Sinergi, Menguatkan Generasi dengan Pembahasan Diskusi: Peran Orang Tua Dalam Pendidikan Pelajar, yang dilaksanakan pada Ahad, 18 Oktober 2026 M bertepatan dengan 7 Jumadil Awwal 1448 H. Kegiatan tersebut berlangsung di MJD Kopi Lamgugob, Syiah Kuala, Kota Banda Aceh.

Kajian ini diselenggarakan oleh Ustaz Hamdi Multazam, S.Pd., C.LQ., M.Pd., selaku Founder Fushulul Quran Aceh (FQA), dengan menghadirkan sejumlah narasumber yang berkompeten di bidangnya, yaitu Ustaz Indra, S.Pd. (Founder Abqary Cendekia), Ustadzah Chairiani, S.Pd. (Direktur TPA Nurul Ikhlas), dan Ustadzah Annisa Kausar (Wakil Kepala Divisi BPSDM LDK Ar-Risalah UIN Ar-Raniry). Diskusi ini dipandu oleh Ustaz Irfan Maulana, S.H., CPM., CPCLE., selaku moderator. Kegiatan ini diikuti oleh 28 peserta secara keseluruhan. Kehadiran para narasumber dan peserta diharapkan dapat memperkaya wawasan, memperkuat pertukaran gagasan, serta melahirkan pemikiran konstruktif terkait tema yang dibahas.

Founder Fushulul Quran Aceh, Ustaz Hamdi dalam pemaparannya menegaskan bahwa kegiatan ini bukan untuk saling menggurui antar peserta, melainkan sebagai wadah berkumpul untuk berbagi pengalaman dari berbagai latar belakang guna menemukan solusi atas berbagai permasalahan di dunia pendidikan.

“Uthlub al-'ilma minal mahdi ilal lahdi (tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat)” jelasnya.

Program ini dilatarbelakangi oleh tantangan besar dalam dunia pendidikan dan pengasuhan anak di era modern yang menuntut adanya kerja sama yang erat antara orang tua, guru, dan lingkungan sosial. Persoalan terkait perilaku pelajar, tantangan akademik, hingga degradasi moral tidak dapat lagi dibebankan kepada sebelah pihak saja.

Ustadzah Chairiani menegaskan bahwa orang tua memegang peranan krusial sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak. Makna "pertama" merujuk pada masa awal kehidupan, di mana pendidikan telah dimulai sejak anak baru lahir. Rumah menjadi sekolah paling awal tempat anak mempelajari nilai-nilai mendasar kehidupan dalam lingkup keluarga. Sementara itu, makna "utama" menekankan bahwa orang tua adalah pemegang tanggung jawab penuh dan penentu arah utama dalam membimbing tumbuh kembang serta karakter anak.

Dalam forum diskusi panel yang membahas pendidikan karakter dan pola asuh, Ustaz Indra menyoroti pentingnya memahami hakikat dan tujuan ilmu melalui pendekatan filsafat ilmu, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Menurutnya, ilmu yang dicari oleh para pelajar harus memiliki kebermanfaatan nyata bagi masyarakat dan berarah jelas. Ia juga menekankan bahwa perilaku sosial anak sangat ditentukan oleh pengawasan dan peran orang tua di rumah. Orang tua dituntut untuk terus belajar agar mampu menjadi teladan yang berkelas bagi anak-anak mereka.  

Sementara itu, dari sudut pandang pengasuhan dan komunikasi, para narasumber mengingatkan bahwa anak-anak generasi saat ini memiliki karakter yang lebih kritis dan membutuhkan penjelasan rasional. Penggunaan gawai maupun permainan daring (game online) pada anak tidak bisa dilarang secara kaku tanpa alasan yang logis, karena hal tersebut justru berpotensi membuat anak merasa tertekan atau minder di lingkungan pergaulannya. Pendekatan yang dianjurkan adalah melalui pembuatan kesepakatan bersama (perjanjian), pemberian batasan usia yang jelas, serta komunikasi dua arah di mana orang tua bersedia menjadi pendengar yang baik.

Di lingkungan sekolah, pendidik diingatkan untuk tidak serta-merta menyalahkan siswa ketika menghadapi kendala belajar atau penurunan keaktifan di kelas. Seorang guru perlu melakukan evaluasi diri dan introspeksi terhadap metode pembelajaran yang digunakan agar sesuai dengan karakteristik psikologis peserta didik. Komunikasi rutin antara guru dan orang tua wali murid menjadi jembatan penting untuk menyelaraskan proses pendidikan di sekolah dengan pengasuhan di rumah.

Melalui diskusi yang dipandu oleh moderator Irfan Maulana ini, para narasumber dan audiens sepakat bahwa perubahan besar menuntut keterlibatan bersama. Pengetahuan dan wawasan seputar pengasuhan harus benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Forum ini diharapkan mampu menjadi titik awal bagi terciptanya tindakan nyata demi melindungi masa depan generasi penerus bangsa dari pengaruh buruk zaman.

Kegiatan diskusi keilmuan ini kemudian ditutup dengan sesi foto bersama antara pemateri, penyelenggara, dan seluruh peserta sebagai bentuk dokumentasi sekaligus memperkuat kebersamaan dalam membangun kesadaran kolektif terhadap dunia pendidikan.

Melalui kolaborasi lintas lembaga ini, Fushulul Quran Aceh beserta seluruh pemangku kepentingan dan elemen masyarakat diharapkan dapat terus bersinergi dalam menghadirkan program-program edukatif dan parenting yang berkelanjutan. Upaya ini ditujukan untuk membimbing para orang tua dan pendidik agar mampu membentengi generasi muda, memperkuat komunikasi dua arah di dalam keluarga, serta mengembalikan orientasi pendidikan anak pada nilai-nilai moral yang luhur dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih baru Lebih lama