TAPAKTUAN - SMA Negeri 1 Trumon Kabupaten Aceh Selatan meluncurkan program "One Dar One Student" (ODOS) bertepatan dengan Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Provinsi Aceh, berlangsung di sekolah setempat, Rabu (2/9/2026).
Kepala SMA Negeri 1 Trumon Timur, Rizal SPd MTESOL kepada media ini mengatakan, rogram digagas oleh ia sendiri bertujuan untuk membangun kedekatan yang lebih kuat antara guru dan siswa melalui pendampingan secara personal dan berkelanjutan.
Katanya, konsep program ODOS terbilang sederhana. Setiap wali kelas diwajibkan menyediakan waktu 15 menit setiap hari untuk bertemu dan melakukan pendampingan tatap muka dengan satu orang siswa secara bergiliran.
"Peluncuran program tersebut menjadi salah satu momen penting dalam peringatan Hardikda ke-67 di SMAN 1 Trumon Timur," ujar Rizal.
Ia menjelaskan, program ini sekaligus menjadi bentuk komitmen sekolah untuk menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga memperhatikan perkembangan karakter, kondisi emosional, potensi, dan kebutuhan setiap peserta didik.
Disampaikannya, bahwa gagasan ODOS berangkat dari sebuah persoalan sederhana yang sering terjadi dalam dunia pendidikan yaitu, guru dan siswa setiap hari bertemu, tetapi belum tentu memiliki kesempatan untuk benar-benar saling mengenal.
“Setiap hari guru bertemu dengan siswa, tetapi bertemu belum tentu mengenal. Kita bisa mengetahui nilai mereka, tetapi belum tentu mengetahui apa yang sedang mereka pikirkan, apa yang mereka rasakan, dan persoalan apa yang sedang mereka hadapi,” kata Ikatan Guru Indonesia) Daerah Aceh Selatan ini.
Menurutnya, melalui ODOS, guru diberikan ruang untuk hadir lebih dekat dengan siswa. Pertemuan selama 15 menit tersebut tidak dimaksudkan sebagai proses pembelajaran formal.
Melainkan sebagai ruang dialog, mendengarkan, memberikan motivasi, mengenali potensi, sekaligus mengetahui berbagai kendala yang mungkin dihadapi siswa.
Rizal menuturkan, 15 menit mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi seorang anak yang sedang menghadapi masalah, 15 menit perhatian dari seorang guru bisa menjadi kesempatan untuk didengar.
"Bagi anak yang sedang kehilangan motivasi, 15 menit itu mungkin bisa menjadi alasan untuk kembali bersemangat,” tandas mantan guru SMA Negeri Unggul Darussa'adah Kluet Raya ini.
Rizal menegaskan, bahwa ODOS bukan sekadar kegiatan tambahan bagi wali kelas, tetapi diharapkan menjadi bagian dari budaya sekolah dalam membangun lingkungan pendidikan yang lebih peduli, humanis, dan berpusat pada peserta didik.
Lebih lanjut kepala sekolah mengungkapkan, dalam pelaksanaannya wali kelas akan menentukan siswa yang menjadi sasaran pendampingan setiap hari secara bergiliran.
Selama 15 menit kata Rizal, guru dapat mengajak siswa berdialog mengenai perkembangan belajar, hubungan dengan teman, cita-cita, minat dan bakat, kesulitan yang dihadapi, maupun hal-hal lain yang relevan dengan perkembangan siswa.
Ditambahkannya, guru juga diharapkan tidak terburu-buru memberikan nasihat, tetapi terlebih dahulu menjadi pendengar yang baik bagi peserta didik.
“Prinsipnya adalah mendengar sebelum menasihati, memahami sebelum menilai, dan mendampingi sebelum menuntut,” imbuh Rizal.
Apresiasi dari Kacabdisdik Aceh Selatan
Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kqcabdisdik) Wilayah Kabupaten Aceh Selatan, Annadwi SPd MM memberikan apresiasi dan dukungan atas peluncuran program One Day One Student ini.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak materi yang dapat disampaikan guru kepada siswa, tetapi juga oleh seberapa kuat hubungan antara guru dan peserta didik.
“Program seperti One Day One Student sangat baik karena memberikan ruang kepada guru untuk lebih mengenal siswanya. Dengan mengenal siswa secara lebih dekat, guru akan lebih mudah memahami kebutuhan, potensi, dan persoalan yang mereka hadapi,” ujar Annadwi.
Ia juga menyampaikan, dukungannya agar program tersebut dapat dilaksanakan secara konsisten dan tidak berhenti pada kegiatan peluncuran semata.
Kata Annadwi, yang terpenting adalah keberlanjutan. Kalau dilakukan secara konsisten, 15 menit setiap hari ini bisa memberikan dampak yang besar terhadap perkembangan siswa.
Ia berharap, inovasi serupa dapat menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain dalam mengembangkan pola pendampingan peserta didik yang lebih personal.(*)
